https://dpk.kepriprov.go.id/

Ukraina, Rusia, dan AS Lanjutkan Perundingan Damai Hari Kedua di Abu Dhabi Abu Dhabi – Ukraina, Rusia, dan Amerika Serikat melanjutkan perundingan langsung hari kedua di Abu Dhabi untuk membahas rencana perdamaian yang didorong Presiden Amerika Serikat Donald Trump guna mengakhiri perang Ukraina–Rusia. Mengutip CNA, Sabtu, 24 Januari 2026, kontak langsung pertama antara perwakilan Ukraina dan Rusia terkait proposal perdamaian tersebut telah dimulai sehari sebelumnya. Kepala negosiator Ukraina, Rustem Umerov, menyatakan pembahasan difokuskan pada penetapan parameter penghentian perang serta arah lanjutan proses negosiasi. Namun, proses perundingan masih diwarnai perbedaan tajam, khususnya terkait rancangan awal yang diajukan Amerika Serikat. Draf pertama menuai kritik dari Kyiv dan sejumlah negara Eropa Barat karena dinilai terlalu menguntungkan Moskow. Sebaliknya, versi lanjutan proposal tersebut justru ditolak Rusia lantaran memuat usulan pengerahan pasukan penjaga perdamaian Eropa. Selain itu, persoalan wilayah Donbas di Ukraina timur masih menjadi isu krusial yang belum menemukan titik temu. Kedua pihak mengakui bahwa nasib wilayah tersebut menjadi kunci utama dalam upaya mengakhiri konflik. Perang yang telah berlangsung selama bertahun-tahun itu menewaskan puluhan ribu orang, memaksa jutaan warga mengungsi, serta menghancurkan sebagian besar infrastruktur Ukraina. Kementerian Luar Negeri Uni Emirat Arab (UEA) menyebut perundingan ini sebagai bagian dari upaya berkelanjutan untuk mendorong dialog dan menemukan solusi politik atas krisis Ukraina. Perundingan dijadwalkan berlangsung selama dua hari. Perundingan di Abu Dhabi berlangsung setelah Presiden Trump bertemu Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy di sela World Economic Forum di Davos. Sebelumnya, utusan khusus AS Steve Witkoff juga mengadakan pembicaraan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Kremlin. Meski intensitas diplomasi meningkat, Moskow dan Kyiv masih menemui jalan buntu, terutama terkait isu wilayah. Rusia tetap menuntut Ukraina menarik pasukannya dari wilayah Donbas timur dan menyebut tuntutan tersebut sebagai syarat penting tercapainya kesepakatan damai. Ukraina menolak keras tuntutan tersebut dan menegaskan bahwa kedaulatan wilayah tidak dapat ditawar. Presiden Zelenskyy menyatakan harapannya agar keinginan mengakhiri perang tidak hanya datang dari Ukraina, tetapi juga dari pihak Rusia. Sementara itu, Presiden Trump menyatakan keyakinannya bahwa Putin dan Zelenskyy berada di ambang kesepakatan. Namun, Rusia menegaskan akan terus melanjutkan operasi militernya apabila upaya diplomatik tidak menghasilkan hasil yang diharapkan.

Ukraina, Rusia, dan AS Lanjutkan Perundingan Damai Hari Kedua di Abu Dhabi Abu Dhabi – Ukraina, Rusia, dan Amerika Serikat melanjutkan perundingan langsung hari kedua di Abu Dhabi untuk membahas rencana perdamaian yang didorong Presiden Amerika Serikat Donald Trump guna mengakhiri perang Ukraina–Rusia. Mengutip CNA, Sabtu, 24 Januari 2026, kontak langsung pertama antara perwakilan Ukraina dan Rusia terkait proposal perdamaian tersebut telah dimulai sehari sebelumnya. Kepala negosiator Ukraina, Rustem Umerov, menyatakan pembahasan difokuskan pada penetapan parameter penghentian perang serta arah lanjutan proses negosiasi. Namun, proses perundingan masih diwarnai perbedaan tajam, khususnya terkait rancangan awal yang diajukan Amerika Serikat. Draf pertama menuai kritik dari Kyiv dan sejumlah negara Eropa Barat karena dinilai terlalu menguntungkan Moskow. Sebaliknya, versi lanjutan proposal tersebut justru ditolak Rusia lantaran memuat usulan pengerahan pasukan penjaga perdamaian Eropa. Selain itu, persoalan wilayah Donbas di Ukraina timur masih menjadi isu krusial yang belum menemukan titik temu. Kedua pihak mengakui bahwa nasib wilayah tersebut menjadi kunci utama dalam upaya mengakhiri konflik. Perang yang telah berlangsung selama bertahun-tahun itu menewaskan puluhan ribu orang, memaksa jutaan warga mengungsi, serta menghancurkan sebagian besar infrastruktur Ukraina. Kementerian Luar Negeri Uni Emirat Arab (UEA) menyebut perundingan ini sebagai bagian dari upaya berkelanjutan untuk mendorong dialog dan menemukan solusi politik atas krisis Ukraina. Perundingan dijadwalkan berlangsung selama dua hari. Perundingan di Abu Dhabi berlangsung setelah Presiden Trump bertemu Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy di sela World Economic Forum di Davos. Sebelumnya, utusan khusus AS Steve Witkoff juga mengadakan pembicaraan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Kremlin. Meski intensitas diplomasi meningkat, Moskow dan Kyiv masih menemui jalan buntu, terutama terkait isu wilayah. Rusia tetap menuntut Ukraina menarik pasukannya dari wilayah Donbas timur dan menyebut tuntutan tersebut sebagai syarat penting tercapainya kesepakatan damai. Ukraina menolak keras tuntutan tersebut dan menegaskan bahwa kedaulatan wilayah tidak dapat ditawar. Presiden Zelenskyy menyatakan harapannya agar keinginan mengakhiri perang tidak hanya datang dari Ukraina, tetapi juga dari pihak Rusia. Sementara itu, Presiden Trump menyatakan keyakinannya bahwa Putin dan Zelenskyy berada di ambang kesepakatan. Namun, Rusia menegaskan akan terus melanjutkan operasi militernya apabila upaya diplomatik tidak menghasilkan hasil yang diharapkan.

Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy dan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump dalam pertemuan di Gedung Putih.
Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy dan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump dalam pertemuan di Gedung Putih. (dok : Tangkapan Layar).

DK-Abu Dhabi – Ukraina, Rusia, dan Amerika Serikat melanjutkan perundingan langsung hari kedua di Abu Dhabi untuk membahas rencana perdamaian yang didorong Presiden Amerika Serikat Donald Trump guna mengakhiri perang Ukraina–Rusia.

Mengutip CNA, Sabtu, 24 Januari 2026, kontak langsung pertama antara perwakilan Ukraina dan Rusia terkait proposal perdamaian tersebut telah dimulai sehari sebelumnya. Kepala negosiator Ukraina, Rustem Umerov, menyatakan pembahasan difokuskan pada penetapan parameter penghentian perang serta arah lanjutan proses negosiasi.

Namun, proses perundingan masih diwarnai perbedaan tajam, khususnya terkait rancangan awal yang diajukan Amerika Serikat. Draf pertama menuai kritik dari Kyiv dan sejumlah negara Eropa Barat karena dinilai terlalu menguntungkan Moskow.

Sebaliknya, versi lanjutan proposal tersebut justru ditolak Rusia lantaran memuat usulan pengerahan pasukan penjaga perdamaian Eropa. Selain itu, persoalan wilayah Donbas di Ukraina timur masih menjadi isu krusial yang belum menemukan titik temu.

Kedua pihak mengakui bahwa nasib wilayah tersebut menjadi kunci utama dalam upaya mengakhiri konflik. Perang yang telah berlangsung selama bertahun-tahun itu menewaskan puluhan ribu orang, memaksa jutaan warga mengungsi, serta menghancurkan sebagian besar infrastruktur Ukraina.

Kementerian Luar Negeri Uni Emirat Arab (UEA) menyebut perundingan ini sebagai bagian dari upaya berkelanjutan untuk mendorong dialog dan menemukan solusi politik atas krisis Ukraina. Perundingan dijadwalkan berlangsung selama dua hari.

Perundingan di Abu Dhabi berlangsung setelah Presiden Trump bertemu Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy di sela World Economic Forum di Davos. Sebelumnya, utusan khusus AS Steve Witkoff juga mengadakan pembicaraan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Kremlin.

Meski intensitas diplomasi meningkat, Moskow dan Kyiv masih menemui jalan buntu, terutama terkait isu wilayah. Rusia tetap menuntut Ukraina menarik pasukannya dari wilayah Donbas timur dan menyebut tuntutan tersebut sebagai syarat penting tercapainya kesepakatan damai.

Ukraina menolak keras tuntutan tersebut dan menegaskan bahwa kedaulatan wilayah tidak dapat ditawar. Presiden Zelenskyy menyatakan harapannya agar keinginan mengakhiri perang tidak hanya datang dari Ukraina, tetapi juga dari pihak Rusia.

Sementara itu, Presiden Trump menyatakan keyakinannya bahwa Putin dan Zelenskyy berada di ambang kesepakatan. Namun, Rusia menegaskan akan terus melanjutkan operasi militernya apabila upaya diplomatik tidak menghasilkan hasil yang diharapkan.