DK – Buton Tengah – Pembangunan Gerai Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) di Desa Lasori, Kecamatan Mawasangka Timur, menandai babak baru transformasi ekonomi desa di Kabupaten Buton Tengah. Bukan sekadar proyek fisik, kehadiran gerai ini dipandang sebagai instrumen utama pemerintah untuk membangun rantai pasok modern yang berpihak kepada petani, nelayan, dan pelaku UMKM.
Gerai KDKMP merupakan bagian dari program nasional di 800 titik Indonesia, yang berorientasi pada pembentukan ekosistem ekonomi desa yang terstruktur, terintegrasi, dan berbasis koperasi. Melalui sistem distribusi yang dikendalikan koperasi, harga komoditas rakyat diharapkan lebih stabil, margin keuntungan lebih merata, dan akses pasar menjadi lebih terbuka.
Selama ini, masyarakat desa kerap terjebak dalam rantai pemasaran yang panjang. Harga gabah, hasil tangkap ikan, hingga komoditas perkebunan sering kali tidak mencerminkan biaya produksi. Dengan hadirnya Koperasi Merah Putih, pemerintah ingin memotong mata rantai tersebut.
Gerai yang dibangun di Desa Lasori akan berfungsi sebagai pusat konsolidasi hasil pertanian, perikanan, dan UMKM, sekaligus sebagai gudang penyangga yang dapat menjaga stok kebutuhan pokok masyarakat. Sistem ini memungkinkan petani dan nelayan menjual produk dengan harga lebih baik karena ada kepastian pasar, sementara harga kebutuhan dasar bagi warga tetap terkontrol.
Bupati Buton Tengah, Dr. H. Azhari, S.STP., M.Si, menegaskan bahwa pembangunan gerai ini adalah bagian dari desain besar pemerintah daerah dalam memperkuat ekonomi berbasis desa.
“Ini bukan soal bangunan gerai semata, tetapi bagaimana desa menjadi pusat produksi dan distribusi yang terkoneksi ke pasar nasional. Koperasi Merah Putih menjadi tulang punggung penggerak ekonomi rakyat, dan Buton Tengah siap mengambil bagian dalam transformasi ini,” ujarnya, saat ditemui Jum’at (07/11/2025)
Azhari menilai, gerai ini akan menjadi katalisator bagi sektor unggulan seperti padi, jagung, perikanan tangkap, rumput laut, serta produk UMKM yang selama ini belum maksimal masuk dalam rantai pasok nasional.
Ditunjuknya Desa Lasori sebagai titik pertama pembangunan di Buton Tengah bukan tanpa alasan. Desa ini memiliki potensi pertanian dan perikanan yang besar serta telah menyiapkan lahan hibah seluas 20 x 30 meter di Dusun Labelengan untuk pusat distribusi dan gudang koperasi.
Kepala Desa Lasori, Buradin, menilai program ini sebagai peluang besar bagi masyarakat untuk keluar dari ketergantungan pada tengkulak dan pasar tidak stabil.
“Koperasi ini akan menjadi tempat penyerapan produk rakyat. Masyarakat tidak lagi bingung kemana harus menjual hasil panen atau hasil laut. Semua bisa dikelola dengan sistem yang terarah,” ungkapnya.
Buradin menambahkan, pemerintah desa siap mendukung operasional gerai, termasuk menyiapkan tenaga pengelola dan memastikan suplai komoditas dari kelompok tani dan nelayan tetap berjalan.

Program KDKMP adalah implementasi dari Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2025 dan Perpres Nomor 9 Tahun 2025 yang menegaskan pembangunan jaringan koperasi modern sebagai tulang punggung ekonomi rakyat.
Menteri Koperasi dan UKM, Ferry Juliantono, dalam vicon nasional bersama kepala daerah seluruh Indonesia beberapa waktu yang lalu, menyampaikan bahwa regulasi teknis dari 18 kementerian/lembaga telah dipersiapkan, termasuk dukungan dari Kementerian Keuangan.
“Gerai ini akan langsung terkoneksi dengan pusat logistik nasional. TNI melalui operasi militer selain perang akan memastikan percepatan pembangunan, sementara PT Agrinas Pangan Nusantara menjadi mitra penguatan logistik dan manajemen rantai pasok,” jelasnya.
Dengan kolaborasi tersebut, pemerintah ingin memastikan bahwa gerai koperasi ini bukan hanya bangunan, tetapi sistem yang berjalan dengan baik, transparan, dan dapat diukur dampaknya terhadap kesejahteraan masyarakat.
Buton Tengah menjadi salah satu daerah yang diproyeksikan memiliki peran penting dalam penguatan ketahanan pangan di Kawasan Sulawesi Tenggara. Melalui Gerai KDKMP, suplai pangan dari desa ke pasar regional dapat lebih terjamin karena ada gudang buffer yang mampu menyerap kelebihan produksi sekaligus memenuhi kebutuhan masyarakat ketika stok menipis.
Model ini dipandang strategis untuk menjaga stabilitas pasokan di tingkat lokal dan nasional, sehingga gejolak harga dapat diminimalisir.
Jika dikelola optimal, Gerai Koperasi Merah Putih di Buton Tengah diproyeksikan akan melahirkan ekosistem ekonomi desa yang mengurangi ketergantungan pada tengkulak, menguatkan posisi tawar petani dan nelayan, menciptakan lapangan kerja baru untuk pemuda desa, menghubungkan produk desa dengan pasar nasional, memperkuat ketahanan pangan daerah, dan mengembangkan UMKM berbasis potensi lokal.


https://dpk.kepriprov.go.id/











