DK-Beijing – Tiongkok meminta Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali menggunakan kerangka nota kesepahaman (MoU) Islamabad serta segera melanjutkan dialog dan perundingan. Seruan tersebut disampaikan Kementerian Luar Negeri Tiongkok pada Rabu (30/9/2026).
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Guo Jiakun mengatakan, Beijing kembali menegaskan dukungannya terhadap penyelesaian perselisihan melalui jalur politik dan diplomatik. Tiongkok berharap AS dan Iran memilih jalur perdamaian serta kembali berkomitmen terhadap kerangka MoU Islamabad.
Seruan tersebut sejalan dengan posisi Tiongkok yang sebelumnya mendorong kedua negara membangun kembali mekanisme perundingan berdasarkan kesepakatan yang telah dicapai. Pada September 2026, Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi juga meminta Iran dan AS kembali pada MoU Islamabad dan melakukan konsultasi substantif mengenai isu yang menjadi perhatian kedua pihak.
Guo mengatakan Tiongkok telah berupaya mendorong penghentian pertempuran dan pembicaraan damai sejak konflik berlangsung. Beijing menyatakan akan terus mempertahankan berbagai inisiatif dan usulan Presiden Tiongkok Xi Jinping untuk mendukung perdamaian serta stabilitas di Timur Tengah.
Tiongkok juga menyatakan akan melanjutkan upaya untuk memulihkan perdamaian dan ketenangan di kawasan Timur Tengah dan Teluk. Menurut Beijing, dialog dan perundingan menjadi bagian penting dalam mencari penyelesaian terhadap konflik.
MoU Islamabad sebelumnya ditandatangani pada 18 Juni 2026 melalui mediasi Pakistan. Berdasarkan keterangan Pakistan dan laporan mengenai isi kesepakatan, nota tersebut menjadi kerangka untuk menghentikan permusuhan serta melanjutkan proses perundingan antara AS dan Iran.
Salah satu isu penting dalam kesepakatan tersebut berkaitan dengan Selat Hormuz. Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif saat itu menyatakan bahwa Iran akan membuka kembali Selat Hormuz, sementara AS akan mencabut blokade lautnya.
Tiongkok sebelumnya juga menyambut dimulainya konsultasi lanjutan antara Iran dan AS dengan bantuan Pakistan dan Qatar. Beijing menyebut ketentuan utama dalam MoU mencakup penghentian permusuhan, larangan penggunaan atau ancaman penggunaan kekuatan, serta penghormatan terhadap kedaulatan dan integritas wilayah masing-masing pihak.
Dalam perkembangan terbaru, Beijing kembali menekankan pentingnya menjaga jalur diplomasi. Tiongkok menilai upaya membangun kembali mekanisme perundingan diperlukan untuk mendorong penyelesaian politik terhadap konflik yang melibatkan AS dan Iran.
Sikap tersebut juga menjadi bagian dari upaya Tiongkok untuk mendorong stabilitas di kawasan Teluk dan Timur Tengah. Beijing menyatakan akan terus mendukung berbagai langkah diplomatik yang ditujukan untuk mengurangi ketegangan dan memulihkan perdamaian di kawasan.












