MENUJU PENERAPAN 4 SEHAT 5 SEMPURNA  DI DESA MAJELIS HIDAYAH

MENUJU PENERAPAN 4 SEHAT 5 SEMPURNA DI DESA MAJELIS HIDAYAH

DK-Penulis :Fenny Febiola Silalahi (peserta KKN Kebangsaan Posko XIX)Manusia memiliki beragam aktivitas yang berbeda, pada setiap aktivitasnya tentu harus di dukung oleh kesehatan tubuh dengan mengkonsumsi makanan sehat guna untuk menambah energy dalam menjalankan aktivitas. Tak dapat di pungkiri bahwa makanan sehat menjadi faktor yang sangat penting bagi tubuh manusia. Empat sehat Lima sempurna merupakan program pemerintah yang di kampanyekan pada tahun 1955, hal ini dilakukan guna untuk menyadarkan masyarakat akan pentingnya asupan makanan yang sehat untuk tubuh. Pengertian makanan sehat adalah makanan yang mengandung 4 sumber nutrisi. Pembagian dari 4 makanan sehat ini meliputi :

• Makanan pokok ( Nasi, gandum, singkong, dll)
• Lauk pauk ( Daging, ikan, telur, dll )
• Sayur-sayuran ( Kangkung, sawi, bayam, dll )
• Buah-buahan ( Apel, Semangka, nanas dll )
• Dan disempurnakan dengan susu.

Sehingga jika dilihat dari kandungannya, makanan 4 sehat 5 sempurna adalah makanan yang mengandung karbohidrat, protein, mineral, vitamin, dan lemak tak jenuh. Tujuan menerapkan pola makan 4 Sehat 5 Sempurna adalah agar nutrisi dan gizi tercukupi pada tubuh, sehingga tubuh selalu sehat dan tidak mudah terkena penyakit. Lalu bagaimana jika point ke empat yaitu sayur_sayuran menjadi kendala penerapan makanan sehat?. Kendala ini terjadi di daerah yang wilayahnya merupakan sektor perikanan yaitu di Desa Majelis Hidayah.

Majelis Hidayah merupakan sebuah desa yang terletak dalam (daerah) kecamatan Kuala Jambi, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi, Indonesia. Masyarakat di Desa ini yang mayoritas pekerjaanya adalah sebagai nelayan, oleh karena itu keberlangsungan pokok dari kehidupan masyarakatnya bergantung pada sumber daya laut. Rata-rata masyarakat di desa ini hampir setiap harinya mengonsumsi ikan dan nasi sebagai sumber makanannya. Kurangnya sayur sebagai pelengkapan penerapan makan sehat di karenakan wilayah desanya mempunyai iklim suhu cuaca yang tergolong panas. Dalam hal ini penulis sekaligus peserta KKN Kebangsaan yang bernama Fenny Febiola Silalahi dari Universitas Jambi mencoba menawarkan solusi untuk bercocok tanam melalui program penanaman sayur tanpa perlu menggunakan lahan tanah yang luas yaitu dengan menanam sayuran dengan teknik tanam Hidroponik. Solusi ini sangat di antusiasi dan di dukung oleh masyarakat sekitar sehingga ide ini dapat terwujud dengan di dukung oleh Dosen Pembimbing lapangan yaitu Dr. Ervan Johan Wicaksana Spd. Mpd serta teman yang sekaligus aktivis lingkungan yaitu I Dewa Gede Bayu Agastya.

Berdasarkan sumber tertulis, Bob Sadino merupakan orang yang pertama memperkenalkan teknik hidroponik di Indonesia. Menurut Siti Istiqomah dalam buku Menanam Hidroponik (2007), hidroponik berasal dari Bahasa Latin, hydro dan phonos. Hydro berarti air dan phonos berarti kerja. Dalam konteks ini, hidroponik diartikan sebagai air yang bekerja. Namun, dalam bidang bercocok tanam, hidroponik adalah kegiatan pertanian yang menjadikan air sebagai medium utama untuk menggantikan tanah. Hidroponik juga dapat diartikan sebagai sistem penanaman tanpa menggunakan media tanah. Teknik menanamnya bisa menggunakan media tanam non tanah, seperti kerikil, pasir kasar ataupun sabut kelapa. Ada beberapa tahapan pembuatan dari tanaman hidroponik yaitu :

1. Serabut kelapa yang di haluskan memiliki fungsi sebagai pengganti tanah.

 

2. Serat dari serabut kelapa memiliki daya serap yang tinggi sehingga mampu menampung air yang banyak

3. Penggunaan Botol plastic bekas.botol plastik bekas ini kemudian di lubangi pada bagian tengah botol yang nantinya akan di isi dengan gelas plastic minuman bekas dan membuat lubang pada bagian bawah botol yang gunanya sebagai sarana untuk menyalurkan air dari botol ke botol lainnya

4. Hasil penanaman menggunakan teknik hidroponik dengan pembibitan dari sayur kangkung.

Metode tanaman hidroponik digunakan untuk mengatasi masalah kekurangan lahan. Sehingga seseorang tetap dapat menanam tanpa harus memiliki lahan yang luas. Demi terwujudnya penerapan makanan 4 sehat 5 sempurna dan juga menyeimbangkan pangan masyarakat pesisir khususnya di Desa Majelis Hidayah yang jarang mengonsumsi sayur, semoga dengan teknik ini mampu bermanfaat untuk meningkatkan konsumsi sayuran di kalangan masyrakat serta demi terwujudnya penerapan makanan 4 sehat 5 sempurna. (Fenny)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *