Di Bintan, Bapak Perkosa Anak Kandung Di Semak-Semak

Di Bintan, Bapak Perkosa Anak Kandung Di Semak-Semak


Bintan
-Satuan Resor Kriminal Polres Bintan mengumumkan pengungkapan kasus (persetubuhan) pencabulan anak  kandung  dibawah umur yang dilakukan oleh Ayah Kandung (Kamis,22/4).

Pengungkapan kasus persetubuhan ini dilakukan bertempat di Kantor Sat Reskrim Polres Bintan kepada awak media.

Kasus persetubuhan ini dengan dasar laporan polisi LPP nomor sembilan belas bulan  2021 tanggal 22 Februari  yaitu adanya dugaan tindak pidana persetubuhan tentang anak dibawah umur. Lokasi dilakukannya persetubuhan ada dua tempat yaitu dirumah dan disemak-semak dekat rumah. Kegiatan sudah dilakukan 4 kali dengan korban inisial Bunga (nama disamarkan), berusia 17 tahun dengan tersangka inisial HR wilayah Teluk Bintan.

Berikut Keterangan Kepala Satuan Reskrim Polres Bintan AKP Dwihatmoko, S.H., S.I.K  kepada media

“Pada hari senin tanggal 22 februari 2021 sekira pukul 01.30 wib pelapor melihat terlapor sedang mencoba menyetubuhi anak kandung terlapor dan pelapor menanyak kepada korban, lalu korban menceritakan bahwa sekitar bulan Desember 2020 sekira pukul 23.00 wib korban sedang tidur di depan ruangan televisi (TV) bersama terlapor, terlapor memegang paha dan menarik celana lalu memaksa membuka celana korban, terlapor memaksa untuk melakukan hubungan badan dan jika korban tidak mau akan diancam ditusuk menggunakan pisau oleh terlapor. Persetubuhan yang dilakukan oleh terlapor terhadap korban dengan cara membuka paksa pakaian korban dibagian celana dan celana dalam. Terlapor melakukan aksi bejat tersebut selama kurang lebih 10 menit. Akibatnya korban mengalami sakit pada bagian kelamin disaat buang air kecil. Setelah mengetahui hal tersebut, pelapor melaporkan ke Polres Bintan untuk pengusutan lebih lanjut sehingga terbitnya Laporan Polisi Nomor: LP-B/19/II/2021/Kepri/Res Bintan, tanggal 22 Februari 2021.

Akibat dari perbuatan sang ayah dijerat dengan Tindak Pidana, ”Setiap orang dilarang melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain“ sebagaimana dimaksud dalam rumusan Pasal 81 Ayat (1) dan ayat (3) Jo Pasal 76D Undang–Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas Undang–Undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2016 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang–Undang Nomor 1 Tahun 2016 tentang Perubahan kedua atas Undang–Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak Jo Pasal 64 K.U.H.Pidana. Dengan ancaman pidana paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan ditambah 1/3 (sepertiga) dari ancaman pidana. Saat ini terlapor masih ditahan oleh penyidik di Polres Bintan”Jelas Dwi.

Sementara itu pelaku ketika ditanyai alasan mengapa tega melakukan kepada anak sendiri beliau mengaku mabuk pada saat melakukan aksi bejatnya itu

Barang bukti yang telah diamankan oleh Penyidik yaitu 1 (satu) helai baju kaos lengan pendek warna putih dengan lengan warna pink, 1 (satu) helai celana pendek warna putih dengan garis warna pink, 1 (satu) helai celana dalam warna ungu, dan 1 (satu) helai celana dalam warna abu-abu.(Hs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *