PERAN PEMUDA UNTUK MEMBANGUN DESA DAN MENGAWAL DANA DESA

PERAN PEMUDA UNTUK MEMBANGUN DESA DAN MENGAWAL DANA DESA

DK-Pekanbaru-Pemuda dan Desa tentunya dua hal ini menjadi topik yang sangat menarik untuk dibahas. Mengapa demikian karena Pemuda ialah sangat identik dengan Perubahan (agen Of Change), yang memiliki idealisme tinggi dan juga kreativitas serta semangat juang masih tetap terjaga apalagi jika dipoles dengan berbagai macam ilmu pengetahuan yang jika bisa diaplikasikan dalam sebuah aksi nyata maka akan terciptalah sebuah perubahan besar.

Oleh : Rezki Bela Putra (Alumni Kehutanan UNRI)

Jika kita mendengar kata Pemuda maka dijamin sebgaian orang akan berfikir hal berikut. Tidak bisa dipungkiri bahwa yang terlintas dalam pikiran orang yang mendengar kata itu adalah mereka kaum intelektual, kaum terpelajar, serta kaum yang paham akan tentang teknologi, tetapi juga ada yang mengatakan bahwa jika mereka mendengar tentang pemuda mereka mengatakan bahwa mereka adalah kaum yang masih belia, perlu belajar, tidak mampu berkomunikasi dengan baik, belum memiliki pengalaman yang baik, kaum perusak, suka memakai Narkoba, minum minuman keras, perjudian dan selalu nongkrong malam dijembatan,dll. Itulah persepsi tentang pemuda dizaman sekarang ini. Tetapi kalau kita kembali kebelakang dan meliahat sejarah kebangkitan bangsa Indonesia pelopor lahirnya Reformasi di Negara ini maka pemuda kita tidak bisa dipandang sebelah mata karena Pemuda mempunyai peranan yang sangat besar dalam mengusung setiap agenda perubahan disuatu bangsa. Kiprah mereka telah terukir indah dalam tinta emas sejarah. Pemuda merupakan harapan besar bangsa dan negara. Terlebih kelompok pemuda intelektual, karena selain diharapkan oleh masyarakat peran mereka pun sangat didambakan oleh kelompok masyarakat lainnya sebagai pionir perubahan ke arah yang lebih baik untuk kearah masa depan yang lebih baik tentunya.
Posisi mereka sebagai pemuda memang menjadi peluang bagi khalayak untuk mengembangkan potensi besarnya dengan cara saling berbagi pengetahuan dan pengalaman, karena kita harus kita akui ada banyak pemuda saat ini ketika berkuliah di perguruan tinggi mereka bukan hanya menjadi mahasiswa yang pasif dan memikirkan kuliah saja, akan tetapi banyak anak muda yang berkecimpung dalam berbagai Organisasi kemahasiswaan baik itu internal kampus maupun eksternal dan disitu mereka banyak belajar untuk mengasah soft skill dan mengembangkan diri mereka. Sebagian besar perubahan sosial politik diberbagai belahan dunia tak terkecuali di Indonesia dipelopori oleh gerakan pemuda. Sehingga Tongkat estafet peralihan suatu peradaban terletak di pundak mereka. Baik buruknya nasib komunitas masyarakat kelak, bergantung pada kondisi pemudanya saat ini. Sebagai pemuda, mereka memiliki karakter yang positif, antara lain idealis, energik, dan tentunya berupaya akademis.
Ada pertanyaan mengapa dalam tulisan saya ini mengaitkan antara Pemuda dan Desa? tentu ada pemiikiran yang sangat mendasar antara pembangunan Desa dan perlunya peran Pemuda. Jika kita melihat Desa di Indonesia saat ini sedang berada dalam sauatu masa kebangkitannya tetapi kurangnyaSumber Daya Manusia (SDM)untuk mendukung kebangkitan dari Desa yang ada di Indonesia saat ini. Sejak tahun 2014 lahir Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa yang menjadi dasar bahwa kini desa adalah subjek pembangunan itu sendiri. Sehingga desa saat ini tidak lagi menunggu pemerintah Pusat, Provinsi ataupun kabupaten untuk datang membangun desa tetapi dari desa itu sendiri bisa leluasa untuk memikirkan pembangunan yang akan dilakanakan di desanya. Sesuai dengan Nawacita Ketiga Presiden Jokowi yakni “Membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka kerja Negara kesatuan”. Pembangunan Desa menjadi prioritas pemerintah saat ini, pembangunan desa dilaksanakan untuk mendukung Undang-undang No.6 Tahun 2014 tentang peningkatan kesejahteraan masyarakat Desa dan kualitas hidup manusia serta penanggulangan kemiskinan melalaui pemenuhan kebutuhan dasar , pembangunan sarana dan prasarana Desa , pengembangan ekonomi lokal, serta pemanfaatan sumberdaya alam dan lingkungannya secara berkelanjutan. Untuk mencapai tujuan pembangunan tersebut pemerintah akan menyalurkan 9,1 triliun kepada 72.994 Desa yang tersebar di seluruh Indonesia dari sabang hingga ke marauke. Berdasarkan kucuran dana tersebut maka masing-masing Desa akan mendapatkan dana antara Rp 800 juta sampai dengan Rp 1,4 miliar yang mulai berlaku pada tahun 2015 lalu. Pada saat ini Desa menjadi sorotan dari semua orang ke Desa karena Pemerintah tengah berupaya mengatasi kesenjangan di Indonesia, salah satunya melalui program dana Desa. Program ini telah berjalan sejak tahun 2015 dengan memberikan total anggaran ke desa Rp 20,8 triliun, tahun 2016 Rp 46,9 triliun, tahun 2017 Rp 60 triliun, dan tahun 2018 Rp 60 triliun. Dan di tahun ini di 2019 makin tinggi dana ang dikucurkan oleh Presiden Jokowi ke Desa sebesar 70 Triliun makin naik dari tahun ke tahun. Dalam mendukung Penggunaan dan penyerapan anggaran dana Desa maka Kemendes PDTT telah menerbitkan peraturan yang dituangkan pada Peraturan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Nomor 11 Tahun 2019 tentang Prioritas Penggunaan Dana Desa Tahun 2020. Tujuannya adalah untuk memberikan acuan bagi Pemerintah Pusat dalam pemantauan dan evaluasi penggunaan dana Desa.
Melalui Permen tersebut, Dana Desa memiliki beberapa prioritas yang tercantum pada BAB II tentang Prioritas Penggunaan Dana Desa. Beberapa prioritas yang tercantum dalam pasal 5 yakni di antaranya :
Ayat 1: Penggunaan Dana Desa diprioritaskan untuk membiayai pelaksanaan program dan kegiatan di bidang pembangunan Desa dan pemberdayaan masyarakat Desa.
Ayat 2: Prioritas Penggunaan Dana Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memberkan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat Desa berupa : a. peningkatan kualitas hidup, b. Peningkatan kesejahteraan, c. Penanggulangan kemiskinan dan, d. Peningkatan pelayanan publik.
Jika kita melihat Permen tersebut maka makin jelas arah penggunaan dana Desa yang begitu banyak tentunya tidak mudah bagi masyarakat Desa dalam mengelola uang yang begitu besar tersebut, bukan juga kita meragukan kemampuan perangkat Desa tetapi jika adanya peran banyak pihak dalam mengawal serta berperan aktif dalam proses perencanaan dan pelaksaan di Desa akan lebih efektif bagi dalam mempercepat pembangunan di Desa tersebut.
Dengan adanya dana Desa yang begitu besar bukan hanya menjadi angin segar bagi Desa tersebut, tetapi ada ketakutan dan keraguan untuk mengelola dana Desa yang begitu besar karena sedikit saja mereka salah dalam perencanaan dan pengeluaran dana Desa maka yang menerima mereka bukan lagi keluarga ketika pulang kerumah melainkan jeruji besi dan dinginnya lantai rumah tahanan. Dari data yang dilansir oleh Indonesia Coruption Watch (ICW) sejak tahun 2015 hingga 2019 kasus korupsi dana Desa kian meningkat dari tahun ketahun. ” catatan ICW, korupsi dana Desa pada 2015 mencapai 22 kasus. Kasus tersebut meningkat menjadi 48 kasus pada tahumm 2016 dan kemudian naik lagi menjadi 98 kasus dalam kurun waktu tahun 2017 dan 2018.
Dengan kata lain, korupsi dana desa selama 2015-2018 menjadi 252 kasus. Kasus-kasus dan Desa meliputi penyalahgunaan anggran, laporan fiktif, penggelapan, penggelembungan anggaran dan suap. Kasus korupsi dana Desa ini menyebabkan total kerugian Negara mencapai Rp 107,7 miliar. Adapun dengan kehadiran dana Desa juga tidak bisa di pungkiri bahwa sudah menjadi lading emas untuk bagi mereka yang rakus memamakan uang rakyat yang bukan hak mereka.
Melihat situasi pada saat sekarang ini ditengah-tengah ancaman wabah Virus corona dengan adanya kucuran dana Desa yang besar, diharapakan pemerintah Desa dapat merealisakan serta memberikan bantuan kepada masyarakat yang berada dibawah garis pra sejahtera agar bisa meringankan beban ekonomi mereka.
Apakah Peran Pemuda Generasi Milenial Bagi Pembangunan Desa?
Pemuda dinilai memiliki tenaga yang besar, pemikiran, semangat serta kratifitas untuk berkiprah dalam pembangunan Desa. Generasi muda memiliki potensi dan energi keberlanjutan untuk mengawal bahkan memimpin pembangunan di Desa. Dengan demikian melihat Potensi yang begitu besar yang ada di Desa serta juga begitu kompleksnya permasalahan yang ada di Desa. maka pemuda atau generasi milenial jangan hanya berdiam diri berada di zona nyamanya masing-masing. perlu adanya Gerakan dari dalam diri setiap anak muda yang mengatakan dirinya sebagai Agen Of Change untuk kembali ke Desa, berkolaborasi dengan masyarakat Desa menuju Desa yang maju dan sejahterah. Ada banyak potensi yang bisa digunakan oleh pemuda untuk kembali membangun Desa nya, karena dengan makin terbukanya sistem informasi di negara ini perlu dimanfaatkan oleh pemuda untuk mencari banyak sumber informasi bagaimana membangun Desa dengan menggunakan dan memanfaatkan Potensi yang ada di Desa itu sendiri. Ada beberapa saran bagi pemuda untuk menjalankan perannya ketika ingin kembali ke Desa yaitu :
Pemuda perlu melakukan riset secara pribadi maupun kelompok untuk mngetahui Potensi apa yang ada di desa tersebut sebagai kekuatan utama sebuah desa dalam membangun Desanya.
Pemuda memahami Desa secara kontekstual dalam artian bahwa pemuda perlu mendalami keadaan Desa secara keseluruhan sehingga tidak menjadi pemuda yang datang ke Desa ingin membangun Desa tapi tidak mengetahui kondisi desa secara keseluruhan baik kondisi, geografis, lingkungan sosial budaya maupun SDM yang ada di desa tersebut.
Adanya sikap terbuka dan rendah hati dari pemuda yang berkeinginan kembali membangun Desa dengan cara melakukan diskusi dan pendekatan dengan para pemangku kepentingan baik pemerintah Desa maupun tokoh adat dan tokoh masyarakat yang berada di Desa tersebut.
Pemuda perlu membekali dirinya tentang konsep membangun Desa dimana tercantum dalam UU Desa No.6 tahun 2014 tentang Desa serta Permen Desa PDTT nomor 11 tahun2019 sehingga masalah aturan dan regulasi tentang Desa sudah dipahami secara menyeluruh oleh pemuda.
Pemuda berperan aktif dalam musyawarah yang diselenggarakan oleh sehingga dalam proses berupa usulan dari masyarakat bisa dikawal dan berikan masukan demi perencanaan pembagunan yang matang berdasarkan potensi yang ada di Desa.
Pemuda haru terlibat dalam proses penyusunan RKPDesa, RPJMDesa untuk melihat secara jelas kemana arah perencaan pembangunan desa tersebut.
Pemuda harus memiliki kekompokan antar lini agar tercapainya cita-cita yang harmoni yang secara bersama kita inginkan. Secara spesifik serta sangat penting tentunya pemuda perlu mengambil alih pembentukan BUMDesa, karena untuk menata dan membangun potensi ekonomi Desa melalui BUMDesa. Dengan pemuda mengambil bagian di BUMDesa maka pergerakan dan pertumbuhan ekonomi Desa berada di pundak kita para pemuda. Disini segala macam kreatifitas dan ide-ide garapan para pemuda akan tertuang dan didukung dengan makin canggihnya teknologi, maka saya yakin Desa akan maju dan berjaya dengan kehadiran para pemuda/generasi milenial yang kreatif, inovatif, tranformatif dan agamis tentunya.
Maka dari itu penulis berharap dengan adanya tulisan ini pemuda dapat ikut sadar dan berperan dalam suatu kemajuan peradaban serta pembangunan yang berkelnajutan. Mulai dari proses perencanaan, penganggran, pelaksanaan, pelaporan dan pertanggungjawaban serta evaluasi. Jangan biarkan idealisme kita mati karena keraguan kita sendiri serta bersama kita hilangkan paradigma buruk tentang pumuda dan aktivis mahasiwa yang mengatakan kita hanya banyak beretorika tetapi tidak ada aksi nyata bagi kemanjuan bangsa dan negara Indonesia yang kita cintai ini.(Hs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!