RUU Sistem Budidaya Pertanian Berkelanjutan Harus Menjadi Kado Terindah Petani, Bukan Boomerang!

RUU Sistem Budidaya Pertanian Berkelanjutan Harus Menjadi Kado Terindah Petani, Bukan Boomerang!

Kedepan Petani Tidak Hanya Mengandalkan Otot Dalam Bertani

DK-Pekanbaru- Rancangan Undang-Undang Budidaya Pertanian (RUU Budidaya Pertanian) sedang dibahas DPR, rencananya RUU ini akan disahkan hari ini tepatnya di Hari Tani Nasional (24/9) sebagai kado dari Pemerintah Indonesia kepada petani l. Secara umum pasal ini memberikan stimulus kepada masyarakat agar menambah jumlah petani di Republik ini. Akan tetapi ada beberapa pasal yang dinilai kurang berpihak kepada petani

Setidaknya ada empat pasal dalam RUU ini yang masih berpolemik. Hal ini disampaikan Mahasiswa Fakultas Pertanian, Jurusan Agribisnis, Universitas Riau(Hermansyah).

Dalam pernyataannya, Herman mengatakan pasal 29 tentang pengedaran benih hasil pemuliaan. Pasal ini dinilai sangat rentan dan minim perlindungan terhadap petani dan ekosistem pertanian.

Pasal ini disebut Herman belum mampu melindungi petani. Dia mencontohkan, rentannya kriminalisasi terhadap petani, seperti yang menimpa Munirwan, petani asal Aceh yang terjadi baru-baru ini mengembangkan bibit padi IF8.

“Petani harusnya diberi kebebasan mengedarkan benih sesama mereka, tidak dibatasi letak geografis apalagi hanya di lingkungan kelompok saja”, ujar dia.

Selanjutnya pasal tentang penyetaraan posisi petani perorangan dan korporasi seperti pada rumusan pasal 1 ayat (2) juga masih dianggap masih belum sesuai. Kemudian pasal tentang benih rekayasa genetik, serta kaburnya istilah pertanian konservasi pada pasal 13 pun masih berpolemik.

Untuk itu saya harapkan kedepannya kebijakan pemerintah harus memihak kepada petani, dan beberapa pasal yang merugikan petani tersebut dikoreksi kembali, selain pasal yang tadi, untuk pasal lainnya sudah berpihak kepada petani, karena memberikan arahan petani terhadap modernisasi pertanian sehingga petani menggunakan Alsitan (Alat dan Mesin Pertanian), kedepan petani tidak hanya mengandalkan otot lagi dalam bekerja, tetapi lebih kepada otak dalam menggunakan teknologi yang ada.

Pemerintah juga harus senantiasa memerhatikan hak-hak kecil seperti jaminan sosial mereka, kesehatan, dan pendidikan anak anak mereka, karena petani adalah pejuang pangan kita

“Pangan merupakan soal hidup matinya suatu bangsa, Apabila kebutuhan pangan rakyat tidak dipenuhi maka ” Malapetaka ” Oleh karena itu perlu usaha secara besar besaran,radikal,dan revolusioner. ( Ir.Soekarno )”.
Selamat Hari Tani Nasional.

Yakin Usaha Sampai

(Hs)

Oleh:Hermansyah
Mahasiswa Jurusan Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Riau- Anggota Perhimpunan Organisasi Profesi Mahasiswa Sosial Ekonomi Pertanian Indonesia

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *