Keluar Dari Ruang Penyidik, Dokter Yusrizal Diam Seribu Bahasa

Keluar Dari Ruang Penyidik, Dokter Yusrizal Diam Seribu Bahasa

dr Yusrizal Saputra (kanan) didampingi pengacara dan istrinya saat keluar dari ruang Unit Tipidum Satreskrim Polres Tanjungpinang usai menjalani pemeriksaan dalam kasus penganiayaan dengan menyuntik seorang bidan sebanyak 56 kali. (foto:dwa)

TANJUNGPINANG, DK – Usai menjalani pemeriksaan selama 5 jam di ruang penyidik Unit Pidum Satreskrim Polres Tanjungpinang, dr Yusrizal Saputra diam seribu bahasa saat di cecar pertanyaan oleh beberapa wartawan, Sabtu (27/10/2018). Ditemani istri dan dua orang pengacaranya, dr Yusrizal Saputra bergegas menuju ke mobil dengan alasan ingin melaksanakan sholat magrib.

Dokter spesialis kandungan yang bertugas di RSUP Ahmad Thabib Tanjungpinang ini menyarankan untuk bertanya kepada pengacaranya Urip Santoso, SH. Saat ditanya apa motivasi dan tujuannya menyuntik bidan W sebanyak 56 kali, lagi-lagi dr Yusrizal Saputra hanya melempar tersenyum.

Urip Santoso, SH mengatakan ada 17 pertanyaan yang diajukan kepada kliennya dr Yusrizal Saputra. Kliennya mengakui memang menyuntik bidan W menggunakan obat vitamin C dengan alasan untuk penyelamatan.

Saat ditanya selain vitamin C, kliennya juga diduga menyuntik bidan W dengan obat bius, Urip Santoso mengatakan mengenai hal tersebut biar nanti ahlinya yang bisa memastikan. “Yang jelas klien saya memang mengakui menyuntik bidan W. Mengapa sampai puluhan kali, tujuannya untuk menyelamatkan,” ujar Urip Santoso.

Mengenai jumlah suntikan sebanyak 56 kali yang dilakukan dr Yusrizal Saputra terhadap bidan W, Urip Santoso mengatakan dari pengakuan kliennya tidak sampai segitu. “Dari pengakuan klien saya sekitar 30 suntikan. Hal itupun dilakukan untuk mencari pembuluh darah pena,” ujarnya.

Satreskrim Polres Tanjungpinang saat ini sudah menetapkan dr Yusrizal Saputra sebagai tersangka penganiayaan terhadap bidan W. Dokter ahli kandungan tersebut diketahui menyuntik bidan W sebanyak 56 kali berdasarkan hasil visum dokter.

Walaupun sudah menjadi tersangka, polisi tidak melakukan penahanan terhadap dr Yusrizal Saputra dengan alasan kooperatif, tidak melarikan diri serta masih menangani pasien.

Tersangka dikenakan dengan UU RI nomor 36 tahun 2014 pasal 84 tentang tenaga kesehatan yang berbunyi “Setiap tenaga kesehatan yang melakukan kelalaian berat yang mengakibatkan penerima pelayanan kesehatan luka berat dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 tahun”. (Dwa)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *