Strict Standards: EasyWatermark\Dashboard\Page and EasyWatermark\Traits\Hookable define the same property ($hooked) in the composition of EasyWatermark\Dashboard\Watermarks. This might be incompatible, to improve maintainability consider using accessor methods in traits instead. Class was composed in /home/datakepri/public_html/wp-content/plugins/easy-watermark/src/classes/Dashboard/Watermarks.php on line 61

Strict Standards: EasyWatermark\Dashboard\Page and EasyWatermark\Traits\Hookable define the same property ($pattern) in the composition of EasyWatermark\Dashboard\Watermarks. This might be incompatible, to improve maintainability consider using accessor methods in traits instead. Class was composed in /home/datakepri/public_html/wp-content/plugins/easy-watermark/src/classes/Dashboard/Watermarks.php on line 61

Strict Standards: EasyWatermark\Metaboxes\Metabox and EasyWatermark\Traits\Hookable define the same property ($hooked) in the composition of EasyWatermark\Metaboxes\WatermarkMetabox. This might be incompatible, to improve maintainability consider using accessor methods in traits instead. Class was composed in /home/datakepri/public_html/wp-content/plugins/easy-watermark/src/classes/Metaboxes/WatermarkMetabox.php on line 70

Strict Standards: EasyWatermark\Metaboxes\Metabox and EasyWatermark\Traits\Hookable define the same property ($pattern) in the composition of EasyWatermark\Metaboxes\WatermarkMetabox. This might be incompatible, to improve maintainability consider using accessor methods in traits instead. Class was composed in /home/datakepri/public_html/wp-content/plugins/easy-watermark/src/classes/Metaboxes/WatermarkMetabox.php on line 70

Strict Standards: EasyWatermark\Metaboxes\Metabox and EasyWatermark\Traits\Hookable define the same property ($hooked) in the composition of EasyWatermark\Metaboxes\Watermark\Preview. This might be incompatible, to improve maintainability consider using accessor methods in traits instead. Class was composed in /home/datakepri/public_html/wp-content/plugins/easy-watermark/src/classes/Metaboxes/Watermark/Preview.php on line 154

Strict Standards: EasyWatermark\Metaboxes\Metabox and EasyWatermark\Traits\Hookable define the same property ($pattern) in the composition of EasyWatermark\Metaboxes\Watermark\Preview. This might be incompatible, to improve maintainability consider using accessor methods in traits instead. Class was composed in /home/datakepri/public_html/wp-content/plugins/easy-watermark/src/classes/Metaboxes/Watermark/Preview.php on line 154
Sembahyang Keselamatan Laut, Asal Mula Dragon Boat Race
Sembahyang Keselamatan Laut, Asal Mula Dragon Boat Race

Sembahyang Keselamatan Laut, Asal Mula Dragon Boat Race

Lomba perahu naga Dragon Boat Race di Sungai Carang. Lomba ini menjadi event tahunan Pemko Tanjungpinang untuk menarik wisatawan. (foto:istimewa)

TANJUNGPINANG, DK – Dragon Boat Race telah menjadi agenda tahunan dinas pariwisata Kota Tanjungpinang, event olahraga dayung sampan ini telah berhasil mencuri hati mancanegara untuk datang menyaksikan event berkepala naga ini bahkan beberapa negara seperti Malaysia, Singapura, Filipina dan negara lainnya ikut serta dalam perlombaan ini. Lomba dengan sampan yang berbentuk naga dan kepala sampan dihiasi secantik mungkin layaknya naga yang sedang berada di atas air.

Namun, tak banyak yang mengetahui bahwa asal mula event internasional ini ialah dari tradisi masyarakat Tionghoa yaitu tradisi sembahyang keselamatan laut, tradisi ini telah dilakukan selama 300 tahun lalu, etnis tionghoa yang berasal dari Tiongkok lah yang membawa tradisi ini hingga sampai ke Tanjungpinang.

Asal muasal cerita bermula dari menteri Qu Yuan yaitu satu-satunya menteri yang tidak melakukan korupsi massal pada masa kerajan tersebut. Dikarenakan raja kesal akan perbuatan Qu Yuan yang suci korupsi pada masa itu lalu menteri tersebut diberi hukuman oleh raja agar terjun ke sungai Milo. Mendengar kabar kematian menteri Qu Yuan di sungai Milo maka masyarakat sepakat untuk mencari mayat menteri Qu Yuan di sungai tersebut dengan bantuan sampan, gendang, dan zong zi.

“Dulu dragon boat ini pertamanya di laksanakan pelantar 2, dulunya ini adalah keselamatan laut yang dilaksanakan oleh seluruh masyarakat tionghoa yang ada di Tanjungpinang itu sejarah dari 300 tahun yang lalu, pada masa kerajaan dahulu di negara
Tiongkok raja dan semua menteri yang bekerja mengadakan korupsi massal, tetapi hanya ada 1 orang yang tidak melakukan korupsi yaitu menteri Qu Yuan yang suci tidak ikut melakukan korupsi, karena perbuatan sucinya menteri Qu Yuan dihukum dan diberi sanksi untuk bunuh diri ke sungai Milo sungai yang berada di Tiongkok tersebut.

Setelah masyarakat mengetahui kematian menteri Qu Yuan, lalu mereka mencari menteri tersebut di sungai tersebut dengan sampan sambil membunyikan gendang dan melemparkan zong zi, gendang itu dia supaya ikan takut dan tidak memakan jasad Qu Yuan sedangkan melempar zong zi ini bertujuan agar ikan hanya memakan zong zi yang dilempar tadi dan tidak memakan jasad Qu Yuan,” penjelasan dari
Bapak Suwatno selaku RW 03 di Pelantar 3, Selasa (9/5).

Dengan bantuan sampan untuk mengelilingi Sungai Milo dan berharap agar di temukannya mayat menteri Qu Yuan tersebut. Setelah kabar kematiannya di dengar oleh masyarakat akhirnya masyarakat pun membantu pahlawan mereka dengan membuat zong zi atau rice dumpling atau ketupat Tionghoa yang diisi berbagai macam kue dan dibungkus dengan daun bamboo dan di bentuk segitiga.

Mereka pun melempar kue-kue tersebut ke sungai tempat Qu Yuan bunuh diri supaya ikan-ikan sungai dari tempat Qu Yuan tidak memakan jenazah Qu Yuan, yang saat itu sudah dianggap sebagai pahlawan mereka. Sedangkan gendang berfungsi untuk menakutkan ikan-ikan dan roh jahat agar tidak memakan dan mengganggu mayat Qu Yuan yang sedang mereka cari.

Pada zaman dahulu, pada saat masih menjadi tradisi sembahyang keselamatan laut sampan Dragon Boat Race ini tidak dihiasi seperti sekarang, kamaren hanya sampan biasa dan dikepala sampan tersebut diberi hiasan bermacam-macam rupa, hiasan tersebut dibikin oleh masyarakat dari kulit kayu atau daun-daunan secantik mungkin. Dan acara Dragon Boat Race tersebut pun dibuat seseklar mungkin layaknya acara keagamaan semestinya.

Jika kita kaji Dragon Boat Race tempo dulu dan sekarang banyak sekali hal menarik dalam tradisi ini salah satunya yaitu pada perahu yang dihias seperti naga secantik dan seunik mungkin, bahkan dalam perlombaan sekarang pun dimasukkan kategori sampan tercantik tersebut, kemudian pada saat permainan dimulai alunan-alunan musik gendang dalam sampan yang dimainkan oleh pemain gendang pun terus dimainkan untuk menjadi penyemangat pada saat acara dimulai konon cerita terdahulu bahwa musik ini dilantunkan pada saat acara keselamatan laut untuk menakut-nakuti arwah roh jahat pada saat perahu jalan sehingga tidak ada yang mengganggu pada perahu sedang berjalan.

Pada sembahyang keselamatan laut yang menjadi tradisi masyarakat etnis tionghoa dimaknai oleh nilai religi yang kental yang dilakukan untuk mendapat keselamatan di lautan dan diberi rezeki dari lautan. Keunikan selanjutnya yang di dapat dari dinas pariwisata kota Tanjungpinang yaitu dulu adanya loya atau roh baik yang di panggil untuk datang berdoa bersama saat acara dilaksanakan. Pada Dragon Boat Race juga ada yang dinamakan dengan tekong, tekong ini letak duduknya dibelakang para pemain, tugasnya ialah untuk memberi arahan kemana arah sampan akan di alurkan.

Hingga sekarang Dragon Boat Race masih dilaksanakan tetapi tidak seperti adat-adat tradisi sebelumnya, ada beberapa perbedaan tradisi Dragon Boat Race yang dilaksanakan dahulu dan pelaksanaannya pada saat sekarang ini. Nilai-nilai luhur dan kearifan sosial Dragon Boat Race ini ialah menambah atraksi budaya, memperingati Qu Yuan yang menjadi seorang menteri yang bijaksana dan anti korupsi, juga mempererat tali persaudaraan serta kepedulian yang terus menyala dan menjadi tradisi pulang kampong untuk memuliakan sanak saudara, kerabat dan menjadi festival perayaan tradisi dan kepercayaan lokal yang memberi semangat spriritialitas untuk kehidupan bersama yang membentuk kesetiakawanan, kekompakan, menambah spiritual baik berdasarkan pertalian darah maupun berdasarkan hubungan tradisi dan kepercayaan lokal.

“Kalau dulu itu acara agama dengan sembahyang-sembahyang meminta kepada dewa untuk sealamat untuk rezeki la, sekarang hanya pertandingan yang orang tau taka da lagi nilai agama, dulu juga itu ada loya, loya itu roh baik ya kita panggil pada sembahnyang untuk mengusir roh-roh jahat yang ada di lautan,” penjelasan dari Bapak Suwatno selaku RW 03 di Pelantar 3, Selasa (9/5).

Sangat menguntungkan bagi dinas pariwisata dan kota tanjungpinang dengan adanya dragon boat race kota tanjungpinang dapat di ramaikan dengan masyarakat dan dapat dikunjung oleh wisatawan asing sehingga kota tanjungpinang dapat dipandang budayanya oleh wistawan asing untuk menambah ikon kota budaya kota tanjungpinang dan demikian dari segi ekonomi pun dapat memberikan keuntungan, dengan adanya event tersebut memberikan pemasukan bagi masyarakat dan dinas pariwisata Kota Tanjungpinang.

Sangat banyak hal-hal yang menarik dan positf dapat kita ambil dari tradisi sembahyang keselamatan laut yang sekarang telah menjadi event pariwisata kota tanjungpinang ini, namun tak banyak yang mengetahui hal tersebut, kurangnya kepedulian akan tradisi, telah banyak orang-orang tua dahulu yang meninggal dunia, dan anak muda yang pergi ke luar dari tanjungpinang salah satu penyebab kurangnya pengetahuan tentang sembahyang keselamatan laut atau Dragon Boat Race ini hal ini sebagaimana hasil wawancara oleh bapak Suwatno.

“Anak muda sekarang sudah pandai-pandai pada pergi ke luar kota tanjungpinang, datang kesini kalau ada acara besar saja itu pun hanaya sekali-sekali, orang tua pun sudah banyak yang meninggal dunia makanya kurang untuk tradisi itu lagi,” penjelasan dari Bapak Suwatno selaku RW 03 di Pelantar 3, Selasa (9/5). (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *